MANUSIA DAN PEMIKIRANNYA
Dosen Pengampu:
Baiti Rahmawati, M.Sos
Penyusun:
Alsya Noor Wahidah (B04219005)
Achmad Bagus Muqorrobin(B04219003)
Alim Maulana Hidayat (B04219004)
D1 Manajemen Dakwah
PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2020
Kata Pengantar
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat serta hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah menunjukkan kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni Addinul Islam.
Makalah ini membahas tentang Manusia dan Pemikirannya. Di dalam pembahasan tersebut berisikan mengenai pengetian, macam-macam, ciri-ciri, aliran-aliran, metode-metode, serta ayat suci Al-Qur’an .
Terima kasih kami ucapkan yang sebesar-besarnya kepada teman-teman yang telah membantu untuk memberikan semangat dalam mengerjakan tugas makalah ini. Untuk Bapak Robert yang telah membukakan pintu perpustakaan dari pukul 08:00 hingga pukul 17:00 sehingga dapat membantu kami dalam mencari referensi untuk penulisan pada tugas makalah kami ini. Serta tidak lupa juga kepada Ibu Baiti Rahmawati selaku dosen mata kuliah IAD-IBD-ISD yang telah membimbing mengarahkan kami dalam menyelesaikan tugas mata kuliah ini dengan tepat.
Bagaimanapun dalam penulisan makalah ini jika terdapat sebuah kesalahan maupun kekurangan maka kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan tidak lupa kami meminta saran maupun masukan mengenai tugas makalah ini agar kedepannya makalah kami bisa lebih baik.
Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Manusia Dan Pemikirannya
Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal
Perkembangan Sifat dan Pengetahuan Manusia
Rasa Ingin Tahu
Kesimpulan
Daftar Pustaka
MANUSIA dan PEMIKIRANNYA
A.Manusia Sebagai Makhluk yang Berakal
Al-Qur’an menyebutkan manusia dengan beberapa istilah yaitu basyar, insan dan nas. Istilah basyar mempunyai arti bahwa manusia merupakan makhluk yang terdiri dari karakteristik fisiologis, biologis dan psikologis. Istilah insan digunakan dalam al-Qur’an untuk menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya yaitu jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seseorang dengan yang lain akibat perbedaan fisik, mental dan kecerdasan. Maka aspek jiwa dan raga inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang memang benar-benar berbeda dengan makhluk lain. Sedangkan istilah nas digunakan untuk menunjukkan sifat universal manusia atau untuk menunjukkan spesies manusia. Artinya ketika menyebut nas berarti adanya pengakuan terhadap spisies di dunia ini yaitu manusia. Insan merupakan istilah yang sangat cocok untuk menggantikan istilah manusia yang akan dibahas dalam kajian ilmiah ini. Dalam membahas tentang manusia (insan dalam bahasa al-Qur’an), para tokoh Islam mempunyai beragam pendapat, sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Menurut al-Jili, manusia merupakan makhluk yang kerohaniannya merupakan unsur pokok dalam hidupnya. Unsur pokok tersebut yang menjadikan manusia memiliki potensi untuk meneladani sifat-sifat Tuhan. Dengan usaha ini, sesungguhnya manusia berada dalam proses pengembaraan menuju Tuhan.
Keintiman antara manusia dan Tuhan merupakan titik akhir dari pengembaraan tersebut. Pada tahap ini manusia sesungguhnya sudah mencapai realitasnya sebagai manusia yang hakiki. Berbeda dengan Ali Syari‘ati, ia memandang bahwa manusia tidak akan pernah mencapai realitasnya, karena antara manusia dan Tuhan selalu terdapat jarak yang memisahkan keduanya. Sehingga manusia pada hakikatnya selalu berada dalam proses menuju realitasnya. Jadi meskipun dengan segala unsur-unsur individunya ia berpotensi untuk mencapai taraf yang lebih tinggi dari tingkatan kemanusiaan yang dicapainya, tetapi pencapaiannya hanya sebatas terus menerus maju ke arah realitasnya. Kalau kedua tokoh di atas membahas tentang manusia dalam kaitannya dengan penyatuannya dengan Tuhan, tetapi Abudurrahman Wahid dan Murtadla Muthahhari membahas tentang manusia yang dikaitkan dengan eksistensi manusia sebagai makhluk yang hidup di dunia dan bertugas untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Dalam menjaga keberlangsungan hidup manusia, kedua tokoh tersebut menjelaskan dimensi-dimensi manusia yang kemudian diarahkan untuk menjaga keseimbangan berbagai aspek dari hidup manusia. Tetapi keduanya mempunyai perbedaan titik tekan dalam mencapai tujuan dari konsepnya.
Gus Dur menjelaskan dimensi-dimensi manusia yang dikembangkan itu berujung pada ranah sosial. Sedangkan Murtadla Muthahhari menjabarkan dimensi-dimensi manusia tersebut berpangkal pada keimanan dan keilmuan. Dalam merumuskan konsep tentang hakikat manusia (filsafat manusia), kedua tokoh sama-sama mendapatkan inspirasi dari al-Qur’an. Al-Qur’an merupakan landasan utama keduanya dalam konsep tersebut, sehingga dalam membahas tentang manusia, keduanya juga menyertakan ayat-ayat yang kemudian dijabarkan. Maka pembahasan kedua tokoh tentang ayat-ayat mengenai manusia perlu juga dibahasnya. Selain pembahasan mengenai kebebasan manusia dalam menentukan masa depannya.
Manusia merupakan salah satu makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki karakteristik yang khas.Manusia disebut Hayawanun Nhatiq artinya manusia yang berakal. Keunggulan manusia dibandingkan dengan makhluk yang lain disebabkan oleh akal yang dimiliki. Dengan akal manusia bisa berkreasi, berbudaya, dan menguasai dunia dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Dengan demikian manusia dapat memahami berbagai fenomena alam yang terjadi.
Akal juga merupakan kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia serta berpikir juga salah satu perbuatan operasional yang mendorong untuk akif berbuat demi kepentingan peningkatan hidup manusia. Secara sederhana dapat dikatakan bahwasannya fungsi akal adalah untuk berfikir dan mengingat kembali apa yang telah diketahui sebagai tugas dasarnya untuk memecahkan masalah. Budi dalam bahasa sansekerta berarti akal dan budi juga diartikan sebagai batin manusia, panduan akal serta perasaan yang dapat memperbaiki baik maupun buruknya segala sesuatu.
Pengukuran keeksistensian manusia teroaud dengan masa lalunya sekaligus mengarah ke masa depan untuk tujuan hidupnya. Dengan ini kita dapat berpendapat bahwa manusia masih berada dalam perjalanan hidup, dalam lingkup perkembangan dan pengembangan diri. Dia itu adalah manusia akan tetapi belum bisa disebut manusia, mengapa begitu, karena ia masih belum selesai mewujudkan dirinya sebagai manusia.
Manusia sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens makhluk yang berbentuk homo faber makhluk yang dapat dididik homo educandum,dan dengan kedudukannya sebagai mahkluk yang berbeda dengan makhluk lainnya haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh dalam kaitannya dengan kepentingan perkembangan kognitif, psikomotorik, dan afektif.
Manusia belum selesai menjadi manusia, maka dari itu manusia dibebani keharusan untuk menjadi manusia, akan tetapi manusia tidak dengan sendirinya berubah menjadi manusia. Untuk menjadi manusia, manusia harus melewati cara dididik dan mendidik diri (Humans can be human only through education). Ini merupakan kesimpulan Immanuel Kant dalam prinsip pendidikannya.
Didalam pendidikan yang sedemikian rupalah terjadi proses interaksi belajar mengajar diantara murid dan guru sehingga terwujudlah transfer kognitif, psikomotorik, dan afektif itu. Dan manusia yang bisa disebut manusia yang utuh adalah manusia yang memiliki keseimbangan didalam beberapa seg, yaitu segi individu, sosial, jasmani dan rohani, serta dunia dan akhirat.
Keseimbangan hubungan tersebut yang menggambarkan kecocokan atau keselarasan hubungan dengan manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama manusia (hablum minannas), manusia dengan alam atau lingkungan sekitar (hablum bil ‘alam), manusia dengan tuhannya (hablum minallah). Sehingga pada dasarnya manusia adalah sebagai pribadi atau individu yang utuh.
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana : bahwasannnya sikap budilah yang menyebabkan manusia untuk mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian terhadap objek dan kejadian. Maka dari itu fungsi akal dan budi manusia menunjukkan sebuah martabat manusia dan kemanusiaan sebagai pemegang amanah makhluk tertinggi dialam raya ini.
Selain itu terdapat sebuah proses berfikir pada manusia yang membutuhkan beberapa komponen :
a. Fakta manusia membutuhkan fakta yang akan dijadikan objek berfikirnya.
b. Indera untuk dapat mencerap fakta-fakta yang akan dipikirkan.
c. Otak merupakan organ berfungsi untuk menterjermahkan setiap fakta yang diserap.
Informasi sebelumnya. Tanpa informasi manusia tidak dapat untuk memahami fakta yang sedang dihadapinya.
Akal memiliki arti daya upaya, ikhtiar, jalan maupun cara untuk melakukan sesuatu. Endang Saifuddin Anshari mengatakan akal adalah salah satu potensi manusia yang berkesanggupan untuk mengerti dan memahami sedikit tentang realitas kosmis kemudian mengolah dan merubah sebatas kemampuan serta menjelajahi dunia rohaniah.
Akal menurut para ulama Ikhwan ash-Shafa dalam buku Metafisika dalam dimensi islam oleh Harry Sidharta menyatakan bahwa akal adalah salah satu daya diantara daya-daya manusia yang fungsinya berfikir,merenung merasionalkan, membedakan dan melaksanakan semua pekerjaan keahlian. Sedangkan menurut ibn Qayyim al-Jauziyah mengingatkan akan nilai dan keutamaan akal. Hal tersebut menurutnya akal merupakan alat dan timbangan setiap ilmu untuk mengetahui yang benar dan salah
Fungsi akal dapat dilihat jika diperhatikan dalam penggunaan kata “akal” di dalam Al-Qur’an yaitu di surah Al-Mulk,ayat 10:
وقالولو كنا نسمع او نعقل ماكنا في اصحب السعير(10)
Artinya: “Dan mereka berkata:Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.”
Bagaimana rasa kita untuk dapat akal sehat, berkenan dengan Ulul al-bab modelnya ada dua macam keduanya yaitu:
Pertama, yakni berdiri duduk dan berbaring, selalu sebarkan kasih sayang.
Kedua, Ulul al-bab orang berakal adalah tidak mencederai janji-janji Allah didalam Q.S.Al-Ra’ad/13(19-20) yaitu : adakah orang yang mengetahui bahwasannya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta?, hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. Yaitu orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.”
Akal seperti penglihatan kita dari penyakit. Tidak rabun perumpamaan wahyu bagai matahari. Maka orang yang tinggalkan akal bagai cari cahaya matahari tapi menutup nmatanya. Akhirnya sama dengan orang buta dapat matahari, tidak dapat melihat. Akal jika dipandang dengan wahyu maka ia hidup bagai lebah.
Akal adalah karunia yang paling besar, oleh karena itu harus dijaga, akal yang dijadikan Allah buat manusia sebagai makhluk yang tertinggi jatuh ke neraka, dengan akal manusia mampu menjaga adabnya kepada Allah, mampu menjaga adabnya kepada alam dunia. Orang cerdas adalah orang yang pandai menghitung secara cermat, bekerja di dunia untuk kepentingan akhirat.
Ibnu kaldun membagi pikiran atau akal (al-‘aqla) manusia menjadi beberapa tingkatan, meliputi al-‘aql al-tamy, al-‘aql al-tajr, dan al-‘aql al-nazar.
Pertama, al-‘aql al-tamy adalah kemampuan pemahaman intelek manusia terhadap segala sesuatu yang ada pada alam semesta, dalam tatanan alam atau tatanan yang berubah-ubah(arbitrary order), agar dia dapat mencoba menyusun dan melakukan seleksi dengan bantuan kekuatannya sendiri. Bentuk pemikiran secara ini sering berubah persepsi-persepsi.
Kedua al-‘aql al-tajr, kemampuan berfikir yang memperlengkapi manusia dengan ide-ide dan perilaku yang dibutuhkan dalam mengatur interaksi sesama manusia. Pemikiran semacam itu kebanyakan berupa apersepsi-apersepsi yang dicapai satu demisatu malalui pengalaman hingga benar-benar dirasakan manfaatnya.
Ketiga, al-‘aql al-nazar, kemampuan berfikir yang memperlengkapi manusia dengan pengetahuan hipotetik mengenai sesuatu yang berada di belakang persepsi alat indera tanpa tindakan praktis yang menyertai. Dia terdiri dari presepsi dan apresepsi yang tersusun dalam tatanan khusus sesuai dengan kondisi-kondisi khusus pula, sehingga membentuk pengetahuan yang lain dari jenisnya yang sama, baik bersifat perseptif ataupun aperseptif. Lalu semua itu terakumulasi dengan hal-hal lain. Kemudian membentuk pengetahuan yang lain lagi. Akhirnya dari proses ini adalah supaya terlengkapi mengenai wujud sebagaimana adanya, dengan berbagai generalisasi, deferensi, dan sebab akibat.
Pendapat ibnu kaldun tersebut menyiratkan bahwa akal bukanlah otak, tetapi merupakan daya atau kemampuan manusia untuk memahami sesuatu di luar dirinya. Dengan kata lain, pemikiran adalah potensi berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia sendiri.
Ibnu kaldun berpendapat bahwa manusia dilahirkan dengan keadaan fitrah. Ia mengartikan fitra sebagai potensi-potensi laten yang bertransportasi menjadi aktual setelah mendapatkan pengaruh dari luar. Dengan demikian ia menyebutkan “jiwa apabila berada dalam fitrahnya yang semula, siap untuk memperoleh atau menerima kebajikan ataupun kejahatan yang datang dan melekat pada nya”.
Dengan demikian, hakekat manusia menurut ibnu kaldun adalah hamba dan wakil Allah SWT di muka bumi, makhluk yang diciptakan Allah dengan segala potensi dilengkapi dengan panca indera pendengaran, pengelihatan dan akal untuk menjadi intelek murni dan memiliki jiwa perspektif. Hal ini didasari oleh kekuatan pemahaman melalui perantara pikiran manusia yang ada dibalik panca inderanya. Manusia adalah individu yang mencapai kesempurnaan dalam realitasnya. Menurutnya, pengembangan potensi diri (fitrah) manusia tersebut harus dilakukan dan menjadi keharusan dari pengajaran dan pendidikan.
Pemikiran Islam telah mengubah bangsa Arab dari suatu kondisi kepada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Pemikiran Islam juga telah melahirkan revolusi radikal di dalam kehidupan mereka secara keseluruhan. Sebelumnya, mereka menyembah patung dengan anggapan bahwa hal itu dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah- kemudian beralih pada penyembahan kepada Allah semata. Demikian pula, sebelumnya ikatan kesukuan (ar rabithah al qabiliyyah) menjadi pengikat satu dengan yang lain. Kemudian ikatan itu berubah, yakni dengan menjadikan aqidah Islam sebagai pengikat yang kokoh di antara mereka.
Demikian juga sebelumnya, kepentingan pribadi dan suku menjadi tolok ukur di dalam kehidupan mereka. Kemudian tolok ukur itu berubah, yakni dengan menjadikan halal dan haram sebagai satu-satunya tolok ukur bagi mereka. Pemikiran Islam telah memberikan sifat kepada mereka dengan sifat-sifat akhlaq yang terpuji, seperti jujur dalam bertutur, menyambung silaturrahim, dan berbuat baik pada tetangga.
Perubahan ini tampak jelas dalam sebuah diskusi yang terjadi antara umat Islam yang hijrah ke Habasyah dengan Najasy sewaktu orang-orang Quraisy mengutus Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amru bin al ‘Ash untuk memulangkan kembali umat Islam (yang hijrah). Saat itu Najasy berkata kepada umat Islam yang berhijrah “Apa sebenarnya agama ini, yang telah memecah belah kaum kalian, sementara kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku atau salah satu agama di antara ajaran (millah) yang ada?” Maka Ja’far bin Abi Thalib berkata: “Wahai Paduka, dahulu kami adalah suatu kaum yang diliputi kebodohan (jahiliyyah) dengan menyembah patung, memakan bangkai, melakukan perzinaan, memutuskan silaturrahmi, berlaku buruk pada tetangga, yang kuat memakan yang lemah. Begitulah keadaan kami dahulu. Hingga Allah menghadirkan ke hadapan kami seorang rasul dari kalangan kami sendiri yang kami kenal garis keturunan, kejujurannya, amanahnya, dan kesuciannya (‘iffah).
Ia datang menyeru kami untuk mengesakan Allah dan menyembahNya. Lantas kami mencampakkan apa yang dahulu kami dan leluhur kami sembah selain Allah berupa bebatuan dan berhala. Ia memerintahkan kepada kami untuk jujur dalam bertutur, menunaikan amanah, menyambung silaturrahmi, berbuat baik pada tetangga, menahan diri dari perkara yang diharamkan dan tidak saling menumpahkan darah. Iapun melarang kami untuk melakukan kemesuman (al fawaahisy) dan perkataan keji (qawl uz zuur), memakan harta anak yatim, serta menuduh berzina perempuan yang baik-baik. Diapun memerintahkan kami untuk semata-mata menyembah Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, melaksanakan shalat, shaum, zakat - sebuah riwayat menyebutkan hingga mencapai bilangan perkara yang diperintahkan Islam.
Lalu kemudian kami membenarkan dan mengimani beliau, serta mengikuti apa yang beliau bawa dari Allah. Sehingga kami hanya menyembah Allah saja, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Kami mengharamkan apa yang diharamkan bagi kami dan menghalalkan apa yang dihalalkan bagi kami. Tetapi kaum kami malah memusuhi dan menyiksa kami, menimpakan cobaan (fitnah) kepada kami agar kami menjauhi agama kami guna mengalihkan kami kepada penyembahan terhadap berhala setelah kami menyembah Allah. Dan agar kami kembali menghalalkan apa yang dahulu pernah kami halalkan berupa barang-barang najis (al khabaa-its).
Tatkala mereka memaksa kami dan menzhalimi kami serta mempersempit ruang gerak kami, menaruh tapal batas antara kami dan agama kami, maka keluarlah kami menuju ke negeri Paduka. Padukalah yang kami pilih di antara sekian banyak yang ada. Kami begitu berharap agar dapat berada di sekitar Paduka dengan harapan kami tidak akan di dzolimi bila berada di sisi tuan wahai Paduka Raja”. Serta merta Najasy menyela: “Apakah Anda membawa sesuatu yang datang dari Allah?” Ja’far menjawab: “Benar”. Najasy melanjutkan: “Perdengarkan kepadaku!” Maka mulailah Ja’far membacakan surat kaaf haa yaa ‘ayn shaad. Demi Allah, saat mereka mendengar Najasypun menangis hingga (air mata) membasahi janggutnya disertai cucuran air mata para pendeta yang membasahi mushhaf yang ada di pangkuan mereka.
Kemudian Najasy berkata kepada mereka: “Sesungguhnya perkara ini (Islam-peny) dan apa yang dibawa oleh Isa as benarbenar keluar dari satu misykat (cahaya/sumber-peny) yang sama. Maka pergilah kalian berdua. Sekali-kali tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka (umat Islam) kepada kalian berdua, dan tidak akan membuat mereka terpercaya.” Demikian ucap Najasy kepada dua orang utusan Quraisy.”
Pemikiran Islam telah membentuk orang-orang Arab dan selain Arab sehingga memiliki kepribadian-kepribadian Islami yang unik, siap mengorbankan nyawa dan apa saja yang dimilikinya dalam rangka mengemban risalah Islam ke seluruh umat manusia. Contohnya adalah Mush’ab bin ‘Umair yang rela meninggalkan keluarga dan tanah airnya, serta kenikmatan hidupnya di kota Mekah demi menyambut seruan Rasulullah saw yang memanggilnya untuk pergi ke Madinah al-Munawwarah. Akibatnya ia terbebani kehidupan yang sempit dan terasing di sana. Namun dengan ia terus melakukan kontak (ittishaal) dengan penduduknya. Hingga akhirnya, ia berhasil mempersiapkan masyarakat Medinah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah yang terus langgeng hingga 13 abad lamanya. Demikian juga Shuhaib al-Rumiy yang rela seluruh hartanya diambil orang-orang Quraysy sebagai ganti hijrahnya ke Madinah (Darul Hijrah).
Berkenaan dengan dirinya turun firman Allah: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari mardha atillaah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya (QS. Al Baqarah [2]: 207) Islam telah mengubah bangsa Arab ke dalam kehidupan baru yang teratur. Sebuah kehidupan baru memiliki ciri khas dalam kehidupan. Islam juga mengubah bangsa-bangsa yang telah masuk ke dalam naungan panji Islam. Mereka merasakan kehidupan yang sama. Islam juga mewarnainya dengan corak Islam (shibghatul Islaam). Akhirnya, Persia dan Romawi meninggalkan ‘aqidah-‘aqidah mereka, dan memeluk aqidah Islam. Mereka menyatu ke dalam pemikiran dan kebudayaan (tsaqafah) Islam, serta turut mengemban dakwah Islam. Pada gilirannya seluruh bangsa melebur dalam pangkuan Islam. Mereka menjadi umat yang satu; satu kesatuan pemikiran, perasaan dan sistem. Tidak ada perbedaan antara orang Arab ataupun non-Arab (a’jamiy). Tidak ada keutamaan antara yang satu dengan lainnya kecuali atas dasar ketaqwaannya. Transformasi yang dihasilkan oleh Islam terhadap manusia yang mengemban dan mengadopsinya, dapat disimpulkan sebagai berikut ini:
Pemikiran Islam telah mengubah manusia dari penyembahan terhadap selain Allah seperti patung dan api, kepada penyembahan terhadap Allah semata.
Pemikiran Islam telah mengubah pandangan mereka tentang kehidupan, dari cara pandang yang dangkal menuju cara pandang yang mendalam lagi jernih (nazharatan ‘amiiqatan mustaniiratan) yang merupakan cerminan dari aqidah Islam, yaitu pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan, dan apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia, serta tentang hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya.
Pemikiran Islam telah mengubah ikatan-ikatan yang ada pada mereka seperti ikatan kepentingan (al mashlahiyyah), kesukuan (al qabiliyyah), dan patriotisme (al wathaniyyah) kepada ikatan ideologis, sebagai sebuah sebuah ikatan yang langgeng lagi kokoh. Adapun ikatan-ikatan sebelumnya bersifat temporal dan lemah.
Pemikiran Islam telah mengubah tolok ukur aktivitas kehidupan mereka dari manfaat-egoisme kepada tolok ukur halal dan haram. Apabila halal, mereka mengerjakan dan mengamalkannya, sedangkan jika haram, mereka segera menjauhi dan membencinya.
Pemikiran Islam telah mengubah asas hubungan kenegaraan. Sebelumnya, hubungan kenegaraan dibangun di atas kepentingan-kepentingan materi, ketamakan dan kepongahan, kemudian menjadi tegak di atas asas penyebaran pemikiran Islam dan mengembannya kepada seluruh umat manusia.
Pemikiran Islam telah mengubah persepsi tentang kebahagiaan pada diri umat. Sebelumnya, kebahagiaan tercermin dalam pemenuhan terhadap syahwat dan segala bentuk kenikmatan dunia. Setelah itu, persepsi kebahagiaan, beralih kepada mencari ridha Allah. Akhirnya, mereka tidak takut akan kematian, dan berharap syahid di jalan Allah. Sebab, mereka telah memahami bahwa dunia ini hanyalah jalan menuju akhirat. Ini tercermin pada firman Allah swt: ( ( Dan carilah dengan apa-apa yang diberikan Allah kepadamu akan negeri akhirat dan jangan lupakan bagianmu di dunia… (QS. Al Qashash [28]: 77).
Beragam Aliran-Aliran dalam filsafat.
Seiring makin maju dan berkembangnnya pola pemikiran manusia dalam mencari dan menemukan solusi kebenaran, sebagai refleksi sekligus suatu usaha dalam mengatasi berbagai kendala juga rintangan yang menghalangi langkah suksesnya tatkala mengarungi samudera kehidupan yang fana ini. Sangat jelas, terungkap semakin mengagumkan pemikiran dan penemuan manusia, semakin banyak pula tuntutan keinginan yang mau dipenuhinya, begitu pula angan-angan dan impian yang mau diraih akan terus hidup dalam sanubarinya. Pernak-pernik persoalan kehidupan manusia tersebut turut mempengaruhi lahirnya revolusi pemikiran yang mendorong munculnya beragam aliran-aliran dalam filsafat, dan berbagai reaksi lahirnya pemikiran filsafat. Para ilmuan yang berkecimpung di dunia kefilsafatan menyatakan, perkembangan aliran-aliran dalam filsafat berjalan seirama dengan tumbuhdan berkembangnya filsafat itu sendiri. Para filosof juga meyimpulkan, padaawal perkembangannya filsafat terbagi menjadi beberapa aliran-aliran yangmemiliki ciri-ciri dan ke-khasan masing-masing. Karena memiliki ciri-ciri dan kekhasan yang berbeda, maka tentu jalan dan metode jalur pemikirannyajuga menghadirkan solusi yang berbeda dan beragam. Menurut A. Susanto (2011), perkembangan aliran dalam filsafat muncul dikalangan pemikir-pemikir Yunani pada abad ke-6 SM. Dikatakannya, mereka mulai mencari jawaban-jawaban tentang rahasia-rahasia alam semesta dengan cara berfikir sendiri-sendiri dan tidak lagi berlandaskan cerita-cerita mitos. Beliau mejelaskan diantara para pemikirdan para filosof yang sudah berpikiran lebih maju tersebut adalah Thales, Anaximandros, Anaximenes, Pythagoras, Herakleitos, dan Socrates, termasuk filosof awal. Bahkan Thales dan Aristoteles disebut sebagai filosof pertama (Juhaya S. Praja, 2003). Selanjutnya, dalam kajian filsafat dipaparkan pula tentang bagaimana cara-cara manusia dalam memperoleh kebenaran. Secara umum ada dua cara dan pola yang ditempuh manusia dalam memperoleh kebenaran. Pertama, mendasarkan diri pada kemampuan rasio atauberlandaskan akal pikiran manusia, dan dikenal dengan faham kaum rasionalisme.Kedua, mendasarkan diri pada pengalaman dan kenyataan-kenyataan yang dirasakan dan dilihat. Pengikut aliran ini disebut kaum empiris. Paparan di atas, mempertegas isyarat bahwa makin maju dan berkembangnya pola-pola pemikiran manusia dalam mencari dan menemukan solusi kebenaran, guna mengatasi berbagai persoalan yang dihadapinya dalam setiap aktivitas kehidupan, turut mempengaruhi lahirnya evolusi pemikiran dari beragam aliran filsafat. Perkembangan aliran filsafat berjalan seiring dengan perkembangan filsafat itu sendiri. Pada awal perkembangannya filsafat terbagi menjadi beberapa aliran-aliran yang memiliki ciri khas masin-masing. Sejalan dengan penjelasan di di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum, ada dua cara manusia dalam memperoleh pengetahuan yang benar. Pertama, mendasarkan diri pada kemampuan rasio dan dikenal dengan paham kaum rasionalisme. Kedua, mendasarkan diri pada pengalaman dan disebut kaum empirisme. Dampak yang terjadi dari munculnya kondisi pemikiran-pemikiran tersebut, maupun berkembangnya pemikiran-pemikiran lainnya, pada akhirnya mendorong sekaligus mengakibatkan lahirnya beragam aliran-aliran dalam filsafat yang cukup berpengaruh. Para filosoif,di antaranya adalah rasionalisme, empirisme,kritisisme,materialisme,idealisme,positivisme,pragmatisme,sekularisme,dan filsafat Islam (J. S Praja, 2003). Untuk mengetahui secara utuh bagaiman cara manusia memperoleh pengetahuan, inilah gambaran tentang aliran-aliran dalam filsafat tersebut:
1.Rasionalisme
Aliran ini berpandangan bahwa pengetahuan bersumber pada rasio atau akal,ketika memutuskan menyelesaikan suatu masalah. Aliran ini berpendapat di dalam rasio terdapat ide-ide dan dengan itu manusiadapat membangun suatu ilmu pengetahuan tanpa menghiraukan realitasdi luar rasio. Akal memperoleh bahan lewat indra, kemudian diolah oleh akal menjadi pengetahuan.
Rasionalisme mendasarkan metode deduksi, yaitucara memperoleh kepastian melalui langkah-langkah metodis yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat umum untuk mendapat kesimpulan yang bersifat khusus. Salah seorang tokoh rasianalis berpengaruh bernama Rene Descartes, membedakan tiga ide yang ada dalam diri manusia, yaitu: (a) Ide-ide yang dibawa manusia sejaklahir.(b) Ide-ide yang berasal dari luar diri manusia.(c) Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran itu sendiri. Motto Descartes, adalah cogito ergo sum, artinya saya berpikir, maka saya ada, dande omnibus dubitandum, artinya ragukan segala sesuatu itu. Tokoh-tokoh rasional abad modern antara lain : Rene Descartes, Nicholas Malerbrance, Spinoza, Gottfried, Wilhelm Leibnis,Christian Wolf, dan Blaise Pascal.
2. Empirisme
Aliran empiris yang menegaskan bahwa pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Kaum empiris berpendirian semua pengetahuan diperoleh lewat indra. Indra memperoleh kesan-kesan dari alam nyata, untuk kemudian terkumpul dalam diri manusia, lalu menjadi pengalaman. Pengetahuan yangberupa pengalaman terdiri atas penyusunan dan pengaturan kesan-kesanyang bermacam-macam. Istilah Empiris berasal dari kata emperia dalam bahasa Yunani berarti pengalaman indrawi. Empiris sangat berlawanan dengan aliran Rasionalis. Tokoh aliran ini, Thomas Hobbes yang lahir di Inggris. Dia,mengatakan : pengalaman permulaan segala pengenalan. Kemudian, JohnLocke dengan teori “tabularasa” rasio manusia harus dilihat seperti“lembaran kertas putih” dan tokoh lain George Berkeley, dan David Hume.
3. Kritisisme
Aliran yang memadukan antara Rasionalisme dan Empirisme. Menurut aliran ini, baik rasionalisme atau empirisme tidak seimbang .Pengalaman manusia merupakan paduan antara sintesa unsur-unsur aspriori (terlepas dari pengalaman) dengan unsur-unsur apos teriori (berasal dari pengalaman). Tokohkritsisme adalah Imanuel Kant. Aliran Kritisis memiliki ciri-ciri yang dapat disimpulkan dalam tiga hal :(a)Menganggap objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukanpada objek. (b)Menegaskan keterbatasan kemampuan akal manusia untuk mengetahui realitas dan hakikat sesuatu, akal hanya mampu menjangkau gejala dan fenomenanya saja. (c)Pengenalan manusia terhadap sesuatu diperoleh dari perpaduanantara unsur akal dan pengalaman.
4. Materialisme
Aliran ini berpandangan bahwa materi itu ada sebelum jiwa (self), dan dunia materi adalah yang pertama, sedangkan pemikiran tentang dunia adalah nomor dua. Materialisme modern mengatakan bahwa alam “universe”merupakan kesatuan material yang tak terbatas termasuk di dalamnya segala materi ,energi (gerak dan tenaga) selalu ada dan akan tetap ada, dan alam adalah realitas yang keras, objek yang dapat diketahui manusia. Aliran materialisme terbagi dua macam :(a)meterialisme mekanik, semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. (b)materialisme dialektik, dan tokoh sentralnya Karl Marx, menilai dunia misterius ini konstan, baik dalam gerak, perkembangan, maupun regenerasinya, materi adalah primer sedangkan ide atau “kesadaran”adalah sekunder.
5. Edealisme
Menekankan akal “mind” sebagai hal yang lebih dahulu “primer” dari pada materi, bahwa akal itulah yang riil dan materi hanyalah produk sampingan. Aliran ini mengatakan realitas terdiri dari, ide-ide, pikiran-pikiran, akal, jiwa, dan bukan benda material dan kekuatan .Idealisme berpendirian bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental dan proses-proses psikologis yang sifatnya subjektif. Pengetahuan tidak menggambarkan kebenaran yang sesungguhnya, atau pengetahuan tidak memberikan gambaran yang tepat tentang hakikat sesuatu yang beradadi luar pikiran manusia. Idealisme terbagi menjadi tiga faham :(a)Idealisme subjektif immaterialisme, akal, jiwa, dan persepsi-persepsinya dan ide-ide merupakan segala yang ada, tetapi hanya dalam akal yang mempersepsikannya. (b)Idealisme objektif, pikiran adalah esensi dari alam, dan alam adalah keseluruhan jiwa yang diobjektifkan. Tokohnya adalah Plato. Ia membagi dunia dalam dua bagian, yaitu dunia persepsi dan alam diatas alam benda, disebut alam konsep, ide, univesal, atau esensi yang abadi. (c)Idealismepersonal atau personalisme, keinginan pribadi.
6.Positivisme
Positivisme berasal dari kata “positif” yang berarti factual, yaitu apa yang berdasarkan fakta. Menurut positivisme, pengetahuan kita tidak boleh melebihi fakta-fakta. Positivisme senada dengan empiris sebagai sumber pengetahuan. Perbedaan Positivisme dengan empiris adalah positivisme tidak menerima sumber pengetahuan melalui pengalaman batiniah, tetapi hanya mengandalkan fakta-fakta belaka. Tokoh positivisme yang terkemuka adalah Auguste Comte, dengan karyanya yang terkenal adalah ‘Cours de Philosophie Positive (Kursustentang Filsafat Positif)’. Aliran positvisme ini banyak diikuti oleh orang-orang yang beranggapan bahwa, untuk memperoleh ilmu yang tepat, harus berdasarkan faktanya (apa adanya), tidak dibuat-buat atau direkayasa hasilnya.
7.Pragmatisme
Pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantara anak akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokoh utama aliran ini, William James, John, dan George Herbert Mead. Pragmatisme, tidak mempersoalkan hakikat pengetahuan, melainkan menanyakan apa guna pengetahuan tersebut. Daya pengetahuan hendaklah dipandang sebagai sarana bagi perbuatan.
8.Sekularisme
Sekularisme adalah, sistem etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, Kitab suci, dan hari kemudian (Juhaya S.P. 2003). Sedangkan menurut Encyclopedia Americana lebih menonjolkan sekularisma sebagai sesuatu sistem etika yang didasarkan atas prinsip-prinsip moralitas alamiah dan bebas dari agama wahyu dan spiritual. Prinsip esensial dari sekularisme ini ialah mencari kemajuan manusia dengan alat materi semata-mata. Dengan demikian, jelaslah bahwa sekularisme masuk dalam kategori materialisme. Tokoh pendiri sekularisme adalah Jacob Holyaoke yang merupakan bentuk peniadaan peran warna Kristiani pada seluruh kehidupan Barat, baik politik, ekonomi,sosial, maupun budaya pada umumnya.
9.Filsafat Islam
Kata filsafat di kalangan umat Islam, diartikan dengan makna hikmah,ini terbukti dari kebanyakan pengarang Arab, menyamakan kata. Hikmah dengan kata. Filsafat, dan menyandingkan kata Hakim dengan kata Filosof. Namun, para ilmuan muslim menempatkan kedudukan hikmah lebih tinggi dari kata filsafat .Contohnya Ibnu Sina, menjabarkan hikmah adalah : mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan,dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik, menurut kadar kemampuan manusia. Di sisi lain, Ibnu Sina dikenal pulasebagai sosok ilmuan muslim yang memiliki kecerdasan dalam ilmu pengobatan, beliua juga sebagai seorang tabib atau dokter yang memiliki karya besar yang ditulis dalam beberapa karya buku kedokteran.
Filsafat Islam, adalah perkembangan pemikiran umat Islam dalam masalah ke-Tuhanan, ke-Nabian, Manusia dan Alam Semesta, yang dinaungi ajaran Islam (S. Zar, 2004). Filsafat Islam cakupannya sangat luas, tidak hanya mengupas persoalan alam semesta dan seisinya, tetapi juga masalahke-Tuhanan, ke-Nabian, termasuk masalah-masalah yang sudah terpecahkan maupun yang belum tuntas terjawab dalam filsafat Yunani, seperti tentang filsafat kenabian dan ruh yang sangat kompleks. Di sisi lain, filsafat Islam memiliki kelebihan, yaitu kemampuan memadukan kualitas kebenaran, antara agama, dan filsafat, akidah dan hikmah, bahkan wahyu juga akal, yang tak kunjung tuntas di perdebatan didalam filsafat Yunani dan beragam filsafat lainnya di dunia ini.
Berlandaskan pemaparan yang telah menjabarkan hakikat utama dan esensi mendasar dari hadirnya filsafat Islam dalam dimensi pemikiran umat Islam, ternyata telah membawa pengaruh yang teramat besar, dalam perkembangan peradaban Islam, dan kemajuan ilmu pengetahuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, baik dari perspektif ontologi, efistemologi dan aksiologi. Di sisi lain, kehadiran filsafat dalam dunia Islam laksana‘oase’ atau mata air yang telah mengalirkan kesejukan, di dalam relung-relung sanubari para pencari dan pencinta ilmu pengetahuan (filosof muslim), yang hidup dan kehidupannya selalu rindu akan kebenaran sejati yang bersumber dari sang Khalik (Allah SWT) untuk tetap berjaya, harum, mewangi kesejukan ajarannya tetap lestari sepanjang masa. Terkait konteks nilai-nilai inspirasi dan filosofis dalam ajaran Islam tersebut, ilmuan sekaligus pemikir Yunani terkemuka bernama Aristoteles pernah berujar, ”Apabila hendak menjadi seorang filosof, Engkau harus berfilsafat dan apabila tidak mau menjadi seorang filosof, Engkau juga harus berfilsafat.”
B. pekembangan sifat dan pengetahuan manusia
Pengetahuan adalah semua apa yang diketahui oleh manusia. Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu, hal ini merupakan ciri khas manusia. Pengetahuan berawal dari keinginan ketahuan manusia terhadap alam semesta baik macro cosmos (alam besar) dan micro cosmos(alam kecil). Manusia adalah homo rationale, dibekali hasrat ingin tahu. Manusia juga tidak akan lepas dengan namanya pendidikan, dengan demikian, ibnu kaldun telah membagi macam-macam ilmu pengetahuan yang menjadi salah satu komponen oprasional pendidikan yang banyak dipelajari oleh manusia menjadi dua bagian, yaitu:
1.Ilmu-ilmu tradisional (naqliyah)
Ilmu naqliyah adalah yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits yang mana dalam hal ini akal hanya perlu menghubungkan cabang permasalahn dengan cabang utama. Karena informasi ilmu ini hanya diambil sumber pemecahan dari Al-Qur’an dan hadits yang dijamin kebenarannya.
Adapun ilmu-ilmu yang termasuk ilmu naqliyah antara lain, ilmu tafsir, ilmu qira’at, ilmu hadits, ilmu usul fiqih, ilmu fiqih, ilmu kalam, ilmu bahasa arab, ilmu tasawuf, dan ilmu ta’bir mimpi.
2.Ilmu-ilmu filsafat atau rasional (‘aqliyah)
Ilmu ini bersifat alami bagi manusia, yang diperoleh melalui kemampuin manusia berfikir. Ilmu ini mayoritas dimiliki oleh manusia seluruh dunia, dan sudah ada sejak peradapan umat manusia didunia. Menurut ibnu kaldun ilmu ‘aqliyah ini dibagi menjadi empat bagian. Yaitu, ilmu logika, ilmu fisika, ilmu metafisika, dan ilmu matematika.
Kemudian ibnu kaldun membagi ilmu berdasarkan kepentingannya bagi anak didiknya menjadi empat bagian yang masing-masing bagian diletakkan berdasarkan kegunaan dan prioritas mempelajarinya, empat macam bagian itu adalah
a. Ilmu agama(syari’at) yang terdiri dari tafsir, hadits, fiqih, dan ilmu kalam.
b.Ilmu ‘aqliyah, yang terdiri dari ilmu kalam, fisika, dan ilmu ketuhanan (metafisika).
c.Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu agama (syari’at), yang terdiri dari ilmu bahasa arab, ilmu hitung dan ilmu-ilmu lain yang membantu mempelajari ilmu agama.
d. Ilmu alat yang membantu mempelajari ilmu filsafat, yaitu logika.
Jujun S.Suriasumantri telah mendaftar sederetan cabang ilmu pengetahuan yang telah dikembangkan sebagai hasil perkembangan pemikiran dan ilmiah dikalangan kaum muslimin pada masa kejayaannya, yang kemudian secara berangsur-angsur berpindah ke dunia Barat sebagai berikut:
a. Dalam bidang matematika, telah dikembangkan oleh para sarjana muslim sebagai cabang ilmu pengetahuan. Seperti: teori bilangan, aljabar, geometri, dan trigonometri.
b. Dalam bidang fisika, mereka telah berhasil mengembangkan ilmu mekanika dan optika.
c. Dalam bidang kimia, telah mengembangkan ilmu kimia.
d. Dalam bidang astronomi, umat muslim telah memiliki ilmu mekanika benda-benda langit.
e. Dalam bidang geologi, para ahli ilmuwan muslim telah mengembangkan geodesi, minerologi, dan meteorologi.
f. Dalam bidang biologi, mereka telah memiliki ilmu-ilmu fisiologi, anatomi, botani, zoologi, embriologi, dan pathologi.
g. Dalam bidang sosial, telah mengembangkan ilmu politik.
Adapun metode-metode yang digagas oleh para ahli ilmu agar pengetahuan itu efektif dalam penyampaiannya. Metode itu adalah,
1.Metode pentahapan (tadarruj)
Pengajaran pada anak didik haruslah sedikit demi sedikit, berangsur-angsur, dan setapak demi setapak. Pada awalnya pengajar atau guru menjelaskan permasalahan bahasan yang kan dipelajari, akan tetapi pokok bahasan harus bersifat umum dan menyeluruh, dengan memperhatikan kemampuan akal dan kesiapan pelajar memahami apa yang diajarkan kepadanya.
2.Metode pengulangan (tikrari)
Kewajiban guru adalah kembali pada pokok dan mengangkat pengajaran pada tingkat yang lebih tinggi, di sini guru tidak boleh hanya puas dengan cara pembahasan yang bersifat umum saja, tetapi juga harus membahas segi-segi yang menjadi pertentangan dan berbagai pandangan yang berbeda. Di sini dapat diketahui bahwa cara latihan yang sebaik-baiknya diulang sebanyak tiga kali, ulangan yang berkali-kali tergantung pada kecerdasan dan keterampilan si murid.
3.Metode karya wisata(rihlah)
Perlawatan juga diperlukan dalam menuntut ilmu karena dengan cara ini murid-murid akan mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan yang banyak sesuai dengan tabiat eksplorasi anak, dari pengetahuan mereka akan didasari atas observasi langsung sehingga memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pemahamannya tentang pengetahuan lewat pengamatan indrawiyah. Rihlah juga ada kriterianya ,tidak asal berpergian saja, menurut ahli ilmu, perlawatan adalah menemui guru-guru yang mempunyai keahlian khusus dan belajar pada tokoh ulama’ dan ilmuwan terkenal.
4.Metode latihan atau praktik (tadrib)
Metode lain yang sering disebutkan oleh ahli dalam pendidikan ialah metode latihan. Sang ahli juga menganjurkan untuk mengajarkan ilmu melalui pelaksanaan lapangan dan latihan (praktik) setelah proses pemahaman ilmu dilakukan (teori), maka kemahiran akan terbentuk dan penguasaan ini akan terbentuk jika guru mahir dalam ilmu mengajar.
Oleh karena itulah mengapa dunia barat begitu berkembang pesat dibidang ilmu pengetahuan dan teknologinya. Karena berdasarkan fakta yang ada, maju dan berkembangnya IPTEK didunia barat,tentu ada peran ilmuwan muslim pula yang mengembangkan berbagai macam teori yang mempengaruhi perkembangan didunia Barat.
Abudin Nata mengatakan bahwa fenomena islamisasi ilmu pengetahuan dapat dilihat dengan sebab-sebab sebagai berikut:
1.Kehidupan moderen yang ditandai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi diakui telah memberikan kemudahan bagi kehidupan manusia dalam berbagai bidang.
2.Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini sudah masuk kedalam seluruh sistem kehidupan dengan berbagai vaiasinya. Namun ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mengetahui tujuan apa yang harus dicapainya. Maka agamalah yang memberi tahu tentang tujuan yang harus dicapai oleh ilmu pengetahuan.
3.Ilmu pengetahuan juga terjadi sebagai respon terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berasal dari Barat dengan sifat dan karkternya yang sekular, materialistis, dan ateis.
4.Ilmu pengetahuan menjadi salah satu tumpuan umat manusia dalam menyelamatkan kehidupannya dari bencana kehancuran. Islam sebagai sitem nilai yang teruji keampuhannya dalam sejarah, mulai dipertimbangkan kembali untuk dijadikan sebagai salh satu alternatif untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh umat manusia.
5.Ilmu pengetahuan juga dapat dilakukan dengan cara melakukan integrasi antara dua paradigma agama dan ilmu yang seolah-olah memperlihatkan perbedaan. Ilmu dikatakan sebagai relatif, spekulatif, dan tak pasti. Sedangkan agama dianggap absolut, tramsedental, dan pasti.
Sifat ingin tahu manusia sudah terlihat sejak anak-anak. Manusia juga selalu berusaha mencari jawaban berbagai macam pertanayaan, dari dorongan ingin tahu manusia yang berusaha untuk mendapatkan pengetahuan mengenai hal tersebut. Manusia dalam hidupnya harus berbekal pengetahuan, sehingga mengetahui mana yang baik dan yang buruk. Manusia merupakan salah satu makhluk hidup yang secara terus-menerus tanpa henti untuk mengembangan suatu pengetahuan.
Para ahli mempersoalkan antara kedua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan indrawi dan pengetahuan akal. Pengetahuan indriawi digambarkan sebagai pengetahuan yang tidak menentu bahkan dipandang menyesatkan, sehingga manusia hanya menghargai pengetahuan dari akal saja.
Manusia mengembangkan pengetahuan guna mengatasi kebutuhan kelangsungan hidupnya dan memikirkan hal-hal yang baru. Ada dua hal penting yang berpengaruh kepada manusia dalam pengembangan pengetahuan diantaranya :
1.Bahasa
Manusia memiliki bahasa yang mampu mengomunikasi informasi, baik secara lisan maupun tertulis dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut.
2.Manusia mampu berpikir
Manusia memiliki kemampuan berpikir menurut alur kerangka tertentu yang disebut penalaran.
3.Manusia yang memiliki bahasa komunikatif dan pikiran yang mampu menalar dapat mengembangkan pengetahuannya(Suriasumantri:1987)” Manusia mengetahui mengapa gunung meletus, apa penyebabnya, dan baimana cara menghindarinya dan menanggulanginya”.
Anak Usia Dini :
Pandangan orang terhadap anak usia dini mengalami kecenderungan dalam perubahan dan perkembangan setiap waktu. Anak usia dini merupakan individu yang yang mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Usia tersebut merupakan masa fase pada proses perubahan berupa pertumbuhan, perkembangan, pematangan, dan penyempurnaan baik dalam jasmaninya maupun rohani yang berlangsung seumur hidup.
Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-6 tahun (undang-undang Sidiknas tahun 2003). Menurut Beichler dan Snowman anak usia dini adalah anak yang berusia antara 3-6 tahun.
Masa usia dini yaitu masa kecil ketika anak memiliki kekhasan dalam bertingkah laku. Bentuk tubuhnya yang mungil dan tingkah lakunya yang lucu, membuat orang dewasa merasa gemas dan kesan. Akan tetapi, bisa membuat dewasa kesal terhadap tingkah lakunya yang tidak bisa dikendalikan.
Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan suci(fitrah) dan menyusun drama kehidupannya sesudah kelahiran dan bukan sebelumnya. Tidak peduli terhadap lingkungan keluarga maupun masyarakat macam apa dilahirkan, oleh sebab itu setiap mannusia dilahirkan dalam keadaan suci.
Contoh landasan hadits yang menjelaskan betapa pentingnya mendidik anak sejak usia dini :
قال: ما منمولودالايولد علىالفطر ةفابوا هيهودانها وينوصرانها ويمجسانه .(رواهالبخري)
Artinya : setiap anak dilahirkan atas fitrah (kesucian agama yang sesuai dengan naluri) sehingga lancar lidahnya, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia bergama Yahudi, Nasrani, dan Majusi (H.R Al-Bukhori).
Menurut pendidikan dan psikologi membagi perkembangan sifat dan alam pikiran manusia secara kronologis mulai masa bayi, masa kanak-kanak, masa usia sekolah, masa remaja, dan masa dewasa. Berikut penjelasan secara rinci.
1.Masa bayi
Lahir sampai dengan 2 tahun, usia ini merupakan masa bayi, namun perkembangan fisik mrengalami kecepatan yang sangat luar biasa, paling cepat dibandingkan usia selanjutnya. Berbagai karakteristik yaitu mempelajari ketrampilan motorik mulai dari berguling, merangkak, duduk, berdiri, dan berjalan. Juga mempelajari ketrampilan menggunakan panca indera seperti melihat, mendengar, meraba, mencium, dan mengecap dengan memasukkan setiap benda ke mulutnya.
2.Masa kanak-kanak
Pada usian 3-5 tahun ini terdapat beberapa kesamaan karakteristik dengan masa sebelumnya, yang secara fisik masih mengalami pertumbuhan yang pesat. Berbagai karakteristik yaitu
Mulai belajar mengembangkan emosi.
Mulai mengembangkan kemampuan berbahasa. Yang diawali dengan berceloteh. Anak terus belajar dan berkomunikasi, memahami pembicaraan orang lain dan belajar mengungkapkan isi hati dan pikiran.
Sangat aktif dalam mengeksplorasi benda-benda yang ada disekitarnya. Ia memiliki kekuatan observasi yang tajam dan keinginan belajar luar biasa.
Masa usia sekolah
Usia mulai 6-12 tahun, perkembangan fisik dan penguasaan motorik cukup baik. Pada masa ini juga sudah mulai dilatih secara berangsur-angsur. Dari mulai belajar membaca hingga memiliki rasa persahabatan terhadap hubungan dengan orang lain.
3.Masa remaja
Usia 13-20 tahun, masa remaja adalah masa pertentangan. Remaja biasanya berusaha mengekspresikan seolah-olah dirinya sebagai orang dewasa, ingin ikut serta dalam kehidupan orang dewasa. Padahal secara aspek-aspek tertentu seperti emosional,fisik,dan mental mereka belum sanggup berbuat demikian. Masa remja pada umumnya belum dapat mengendalikan emosi. Sehingga terjadi konflik atau pertentangan baik dalam diri remaja sendiri maupun dirinya dengan orang dewasa. Biasanya para remaja mengaitkan dirinya dengan idola-idola atau tokoh yang mereka idolakan. Sehingga mereka berdandan sedemikian rupa layaknya orang yang mereka idolakan, karena memiliki sifat labil.
4.Masa dewasa
Usia lebih dari 20 tahun ditandai dengan adanya kemampuan individu. Kemampuan tersebut seperti mampu mengontrol tingkah lakunya secara pasti dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.
Menurut Zakiah Darajat(19990:23) remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak masih mengalami masa pertumbuhan perkembangan sifat dan pengetahuan. Masa remaja yaitu masa yang dimana banyak menarik perhatian terhadap masyarakat, bahwa memiliki sifat-sifat khas yang nantinya akan menentukan kedalam masyarakatnya. Oleh karena itu manusia hidup dalam alam kultur dan bisa menempatkan dirinya diantara nilai-nilai kultur tersebut, agar bisa mengenal siapa dirinya juga meneliti sikap hidup yang lama dan terus mencobanya yang baru agar bisa menjadi seorang pribadi yang dewasa. Jadi pada dasarnya, kita rinci kedalam beberapa masa yaitu:
Awal remaja (umur 13-15 tahun)
Pada masa ini cepatnya dalam pertumbuhan yang membawa kejanggalan, serta memperlihatkan kurangnya koordinasi antara pikiran dan badan. Pada usia ini sekarang telah mencapai puncaknya dan mulai surut digantikan oleh ketertarikan lawan jenis juga disertai dengan memiliki perasaan malu.
Perkembangan mental telah membuat pegangan yang pasti menyebabkan remaja lebih kritis dan memiliki banyak waktu untuk berkhayal serta memikirkan tentang masa kedepannya dan yang akan dikerjakan nantinya. Ketertarikan pada hal-hal yang bersifat rohani dan hal-hal bersifat semangat mulai menjadi masalah pengalaman daripada penerimaan banyak fakta.
Karakteristik mental:
a.Remaja belajar dengan cepat
b. Remaja sudah mulai mendapatkan rasa tertarik pada hal-hal yang khusus
c.Remaja terja,namun masih terpaku dalam suka berkhayal.
Karakteristik fisik:
a.Kesehatan bagus.
b.Perkembangan fisik sangat cepat dengan nafsu makan yang kuat menyertai dalam masa pertumbuhan ini.
c.Otot-otot berkembang atau kegagalan koordinasi untuk menjaga tahap perkembangan struktur tulang yang menyebabkan kecenderungan menuju kelakuan.
d.Organ-organ seks berkembang membuat perkembangan begitu cepat. Hormon-hormon baru mengembangkan insting seksual yang memengaruhi tingkah laku.
Karakteristik sosial:
a.Didalam usia ini menunjukkan dalam kesetiaan pada berkelompok, dengan satu ketakutan bahwa dirinya berbeda dengan kelompoknya.
b.Remaja mencari lebih banyak dalam kebebasan secara individu.
Keinginan untuk mencari uang serimg melanda pada usia anak remaja ini.
c.Pada usia ini juga sering terjadi pergantian suasana hati.
Karakteristik kerohanian:
a.Pada usia ini ketertarikan terhadap hal-hal kerohanian berkurang secara drastis yang dipengaruhi dengan tingkah laku dari teman-teman pergaulannya.
b.Didalam usia ini banyak sekali yang ingin bercita-cita untuk bekerja mencari uang.
c.Usia ini kecenderungan untuk menyatatakan perasaannya.
Sering terjadinya pertentangan dengan suara hati.
Pertengahan remaja (umur 16-17 tahun)
Pertumbuhan berlanjut dengan cepat dimana pada periode usia remaja ini dalam banyak hal mencapai ketinggian fisiknya. Pada waktu masa lalunya masih mencari jati dirinya. Sekarang mulai bisa mengembangkan rasa individualitasnya dan menjadi seorang yang memiliki keputusannya sendiri.
Karakteristik mental:
a.Pada usia remaja ini, dia akan sering bertanya segala sesuatu dan ingin bukti sebelum dia menerimanya.
b.Prinsipnya mulai dipertajam dan benar-benar untuk merencanakan cara untuk mencapainya.
Karakteristik fisik:
a.Seksualitas berkembang terus.
b Tinggi dan berat mencapai 85% dari usia pada masa dewasa.
c.Otot-otot menjadi berkembang, karena mereka melatih kebugaran fisik.
Karakteristik sosial:
a.Mereka suka berkelompok-kelompok dengan teman istimewanya.
b.Sangat kritis dalam mempaikan pendapat.
c.Sangat peka dan sering dipengaruhi dalam lingkungannya.
Karakteristik kerohanian:
a.Merekaerus berkembang dalam pengenalan nilai-nilai sosial dan nilai kerohanian.
b.Apa yang belum dilakukan dalam memberikan pondasi yang akan mendasari dasar pemikiran mereka sekarang menjadi sulit untuk diberikan.
Akhir remaja (umur 18-24 tahun)
Secara fisik dalam akhir remaja ini yaitu waktu yang lambat untuk bertumbuh. Kepribadian muncul dan karakter menjadi tetap. Keraguan apapun akan berhubungan dengan keagamaan juga dipikirkan dan suatu dasar yang memuaskan dalam penemuan iman adalah penolakan terhadap barang peninggalan pada masa lalu. Ketertarikan pada lawan jenis telah menemukan pemecahnya menjadi cinta dan rumah tangga sehingga terbentuknya membangun sebuah rumah tangga.
C. Rasa ingin tahu
Manusia secara fitrah telah diberi oleh Allah SWT kemampuan untuk berpikir,bahkan dalam islam ayat yang pertama kali turun yaitu di surah al-alaq’ berisi tentang “iqro” yang artinya bacalah. Bacalah memiliki kemampuan berpikir tentang dirinya dan lingkungan sekitarnya. Seiring bertambahnya usia masing-masing individu memiliki karakter berbeda dalam mengekspresikan rasa ingin tahun.
Berikut menurut para ahli:
Samani dan Hariyanto (2012:30) mengemukakan bahwa rasa ingin tahu adalah keinginan untuk menyelidiki dan mencari pemahaman terhadap rahasia alam atau peristiwa sosial yang terjadi.
Aly dan Eny (2010:3) menyatakan bahwa rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul didalam pikirannya.
Rasa ingin tahu merupakan sikap yang dimiliki oleh setiap individu yang mendorong individu tersebut mencari jawaban yang belum diketahuinya terkait persoalan yang muncul didalam pikirannya. Rasa ingin tahu yang dimiliki setiap individu itu berbeda-beda dan tidak sama kuatnya. Akibatnya dalam pemberian jawabannya juga harus dengan tingkat rasa ingin tahu individu itu sendiri. Rasa ingin tahu yang belum terjawab akan membuat individu itu merasa penasaran akan hal yang belum ia peroleh jawabannya, sehingga ia akan terus berusaha untuk mencari sumber yang menurut pandangannya jawabannya sudah memuaskan hasrat rasa ingin tahunya.
Ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini berawal dari rasa keingintahuan yang tinggi yang mana rasa ingin tahu itu merupakan suatu ciri khas manusia. Rasa ingin tahu itupun yang menggiring manusia untuk menemukan jawaban dari berbagai masalah dalam pikirannya. Upaya yang dilakukan oleh akal pikiran manusia dapat mengalami kegagalan, akan tetapi kegagalan yang ditimbulkan oleh akal pikiran dapat juga memicu untuk melakukan atau memaksimalkan awal kegagalan tersebut menjadi keberhasilan.Rasa ingin tahu hanya dimiliki oleh manusia saja, dan tidak dimiliki oleh makhluk hidup yang lain, seperti batu, air, angin dan lain-lain.
Bagaimana halnya dengan hewan, seperti monyet yang sangat pandai? Jika kita lihat dengan seksama mereka (monyet) memiliki rasa keingintahuan tahuan sangatlah besar yang tetap sepanjang zaman (idle curiousity), bisa disebut juga dengan insting. Insting itu bekerja hanya pada satu titik fokus saja yaitu mempertahankan kelestarian hidupnya.
Bagaimana halnya dengan manusia? Manusia bisa juga dikatakan memiliki insting seperti hewan, akan tetapi ada yang membedakan antara hewan dan manusia. Yaitu adanya kemampuan berfikir disebut dengan curiousity tidak idle, yang maksudnya tidak tetap sepanjang zaman. Manusia memiliki rasa ingin tahu yang berkembang, berbeda dengan hewan yang rasa ingin tahunya tetap sepanjang zaman. Manusia memiliki kelebihan apabila mengetahui sesuatu tertentu tidak berhenti pada satu pengetahuan itu saja, pasti timbul pertanyaan-pertanyaan yang bersangkutan dengan sesuatu tersebut mereka juga ingin tahu bagaimana dan mengapa begitu.
Manusia mampu menggunakan kemampuan yang dulu kemudian dikombinasikan dengan kemampuan yang baru saja diperolehnya, sehingga terbentuklah akumulasi pengetahuan. Sebagai contoh, coba bayangkan manusia purba zaman dahulu yang tinggal pada gua-gua atau di atas pohon. Dengan kemampuan berpikirnya yang mana tidak semata-mata hanya ingin mempertahankan kelestarian hidupnya, tetapi juga memikirkan keberlangsungan hidupnya lebih menyenangkan dan lebih berkesan. Mereka membuat rumah-rumah diatas pepohonan, bahkan pada zaman sekarang mereka dapat membangun bangunan yang megah, seperti istana, gedung-gedung dan lain sebagainya. Jadi ini membuktikan bahwa manusia memiliki rasa keingintahuan yang tinggi dengan diikuti pengetahuan yang berkembang mengikuti perubahan sepanjang zaman.
Keinginan manusia sepanjang sejarah untuk menjadikan individu maupun kelompok tertentu untuk menjadi lebih pintar, lebih cerdas, lebih berkuasa, dan lebih dalam segala hal merupakan sifat alamiah dan manusiawi. Namun pemenuhan kehendak naluri tersebut biasanya dengan cara pemaksaan kehendak yang serba maksimal, seperti guru kepada muridnya, guru itu menginginkan muridnya agar lebih pintar dengan cara belajar terus menerus tanpa melihat keadaan motorik anak didiknya tersebut yang memiliki ketergantungan atau lambat dalam pemahaman materi pelajaran. Kehendak naluri rasa ingin tahu yang didasari oleh keterpaksaan itulah yang tanpa disadari kita sudah terjebak dalam permasalah-permasalah yang baru.
Apabila kita melihat kebelakang lagi, kondisi yang terjadi ada contoh diatas juga memiliki beberapa kesamaan dalam beberapa hal pada masa ibnu kaldun. Pada masa ibnu kaldun, para guru tidak memahami cara-cara bagaimana mengajar (metode didaktif), sehingga mereka tanpa sadar telah memaksakan naluri rasa ingin tahu kepada para murid untuk memahami persoalan yang hanya mengharapkan keberhasilan latihan berfikir logika. Para guru pada masa itu (masanya ibnu kaldun) mengira bahwa cara tersebut merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan murid untuk menjadi manusia-manusia yang cerdas, namun apa yang terjadi setelahnya. Yang terjadi adalah fenomena yang mana para murid-murid kebingungan.
Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk yang berakal, bahwa manusia itu mempunyai akal dan budi. Dengan akal dan pikiran manusia dapat menerima dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Terkadang manusi merasa sekaligus berfikir. Berbagai ungkapan emosi berupa sedih, kecewa, takut, dan khawatir dapat mempengaruhi kegiatan berpikir seseorang.
Manusia dapat membuat keputusan, mengambil pelajaran yang terjadi dalam kehidupan serta dapat mempertimbangkan baik buruknya segala hal yang akan mempengaruhi kehidupannya.
Daftar Pustaka
Kurzman, Charles, Wacana Islam Liberal: “Pemikiran Islam Kontemporer tentang Isu-isu Glogal, terj. Bahrul Ulum dan Heri Junaidi (Jakarta: Paramadina, 2003), h. “300.
Qurash, M. Shihab, “Wawasan al-Qur’an “(Bandung: Mizan 1997), h. 278.
Bahruddin, “Paradigma Psikologi Islam”: Studi tentang Elemen Psikologi dari al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), h. 76.
Karîm, Abdul Ibnu al-Jîlî, Insân Kâmil:” Ikhtisar Memahami Kesejatian Manusia dengan Sang Khâliq hingga Akhir Zaman”, terj. Misbah el-Majid (Surabaya: Pustaka Hikma Perdana, 2006), h. 319.
„Alî Syari„atî, “Tugas Cendikiawan Muslim”, terj. Muhammad Faishol Hasanuddin (Jakarta: YAPI, 1990), h. 68-69.
„Alî,” Tugas Cendikiawan Muslim”, h. 64.
Wahid, Abdurrahman, “Islam Kosmopolitan”: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), Cet. Ke-1, h. 30.
Muthahharî, Murtadlâ,” Perspektif al-Qur’an tentang Manusia dan Agama”, terj. Haidar Bagir (Bandung: Mizan, 1992), Cet. Ke-6, h. 30.
Penyusun, Tim MKD, “Ilmu Alamiah Dasar,Ilmu Sosial Dasar,Ilmu Budaya Dasar”, (Surabaya:UINSA Press 2019), hal +230.
Al-Nafs, Al-Irsyad,”Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam”, Vol 2,NO1, Desember 2015.
Shihab, M Quraish,”Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’I atas Persoalan Umat “, cetakan III,Bandung:Mizan,1996.
Zawiyah,”Jurnal Pemikiran Islam”, Vol2,No1,Desember 2016
Al-Qur’an,Al-Mulk:10
Al-Qur’an,Al-Ra’ad:19-20
Qodratullah, Waway S,”Konsep Ulul Albab dalam Al-Qur’an dan Implikasinya dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Perguruan Tinggi”,Vol 8.No1, Maret 2016.
Saiful, T Akbar,”Manusia dan Pendidikan Menurut Pemikiran Ibn Khaldun dan John Dewey”, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, Vol 15.No2, Februari 2015.
Baiti, Rosita,”Pemikiran Manusia dalam Aliran-aliran Filsafat”,Wardah:No.XXIX/Th.XVI/Juni 2015.
A, Reza A. Wattimena,” Filsafat dan Sains” Jakarta:Grasindo,2008.hal 322.
Supriatna, Eman,”Islam dan Ilmu Pengetahuan”.Vol 2, No1, Tahun 2019.
Yaqin, Ainol,”Jurnal OKARA”,Vol 1.No1,Mei2015
Murni,”Perkembangan Fisik,Kognitif,dan Psikososial pada masa Kanak-kanak awal 2-6 tahun”,Vol III.NO1.Januari-Juni 2017.
Khairi, Husnuzzniadatul,”Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini Dari 0-6 Tahun”.Vol 2 No2, Desember 2018
Wulandari, Ade,”Karakteristik Pertumbuhan Perkembangan Remaja dan Implikasinya Terhadap Masalah Kesehatan dan Keperawatannya”,Vol2,No1,Mei 2014.
Zarkasih, Khamim Putro,”Memahami Ciri dan Tugas Perkembangan Masa Remaja” APLIKASIA:Jurnal Aplikasi Ilmu-ilmu Agama. Vol 17,No 1, 2017.
Suhada, Idad, “Ilmu Sosial Dasar”, Bandung: PT Remaja Rosdayakarya, 2016.
Pratama, Isti Rahayu,”Pengembangan Instrumen Rasa Ingin Tahu Siswa Sekolah Menengah Atas” Jurnal Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan. Vol1.No1.2019.
Adi, Djuretna Imam Muhni,”Manusia dan Pemikirannya”,Jurnal Filsafat,Maret 1997.
Sodiq, Mochammad,”Ilmu Kealaman Dasar”,Divisi:Kencana, hal 286, Cetakan:II,2014.
